Kamis, 19 November 2009

CARA SADAR MENYIKAPI PERUBAHAN IKLIM

CARA SADAR MENYIKAPI PERUBAHAN IKLIM

Oleh : Gusmailina


I. PENDAHULUAN

Peringatan Hari Bumi tahun ini mengangkat tema Solusi Perubahan Iklim. Tema ini dipilih karena perubahan iklim merupakan masalah lingkungan hidup terbesar yang mungkin pernah dihadapi bumi akibat berbagai aktivitas manusia. Tema ini dipilih karena meski kesadaran mengenai perubahan iklim perlahan mulai tumbuh, namun solusi-solusi konkret masih minim. Indonesia dengan bentuk negara kepulauan dan banyaknya penduduk yang mengandalkan sumber daya alam untuk matapencaharian sangat rentan terhadap perubahan iklim. Diangkatnya solusi bagi perubahan iklim menjadi tema Hari Bumi Internasional merupakan momentum yang baik untuk mengingkatkan kembali ancaman laten perubahan iklim. Solusi-solusi bagi dampak perubahan iklim, terutama bagi Indonesia yang rentan terhadap dampak-dampkanya, perlu mulai mendapat perhatian yang lebih serius. Dua solusi yang bisa kita lakukan adalah mengurangi emisi dari berbagai aktivitas kita serta menyiapkan strategi adaptasi terhadap perubahan yang sudah mulai terjadi (Soejachmoen, Direktur Eksekutif Yayasan Pelangi Indonesia, 2009).

II. STRATEGI SOLUSI
1. Kurangi emisi gas rumah kaca
a. Untuk menahan laju perubahan iklim, perlu segera melakukan usaha-usaha mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) hasil aktivitas manusia. Ini bisa dilakukan dengan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil – minyak bumi, batubara, dan gas. Dua cara yang bisa dilakukan adalah dengan beralih ke bahan bakar yang memiliki emisi yang lebih rendah seperti penggunaan gas dan energi dari sumber terbarukan, atau melakukan program efisiensi energi. Ini efektif dilakukan di sektor industri dan pembangkit listrik. Kedua sektor ini termasuk penghasil emisi GRK utama di Indonesia, dan memiliki konsumsi energi per kapita yang tinggi.
b. Mengganti penggunaan batubara atau diesel menjadi gas bisa menghasilkan penurunan emisi GRK yang signifikan. Penelitian pada satu industri manufaktur di Cilegon menunjukkan beralih penggunaan bahan bakar diesel ke gas alam dapat menurunkan emisi GRK pabrik tersebut sebanyak 31%.
c. Beralih menggunakan sumber energi terbarukan bisa mengurangi emisi GRK dalam jumlah yang lebih besar. Dan dengan semakin tingginya harga minyak bumi, sumber energi terbarukan menjadi pilihan yang semakin menarik. Saat ini biodiesel menjadi alternatif yang perlu dipertimbangkang dengan serius. Penggunaan biodiesel, yang sekarang mulai berkembang untuk bahan bakar transportasi, tipe B10 (10% biodiesel, 90% diesel) juga bisa digunakan sebagai bahan bakar industri bisa mengurangi emisi GRK tanpa perlu modifikasi peralatan.
d. Sedangkan untuk pembangkitan listrik, Indonesia memiliki 40% dari total potensi geotermal dunia, yaitu 27 MW yang tersebar di 151 lokasi namun saat ini baru 270 ribu Watt yang dimanfaatkan. Ada keengganan menggunakan geotermal untuk pembangkitan listrik karena kendala lokasi dan harganya yang masih relatif tinggi; harga listrik hasil pembangkit panas bumi adalah 6,6 sen dollar/KWh, batubara 4,3 sen dollar /KWh, minyak bumi 5,2 sen dollar/KWh. Namun, bila biaya lingkungan untuk pembangkitan listrik sebesar 3 sen dollar/KWh dimasukkan, geotermal akan menjadi pilihan yang lebih menarik.
e. Upaya-upaya penurunan emisi GRK seakan tidak berarti manakala pemerintah berencana menandatangani investasi membangun pembangkit listrik sebesar 10.000 MW berbahan bakar batubara. Untuk tiap MWh listrik yang dihasilkan, pembangkit batubara dapat menghasilkan 934kg CO2, maka total emisi CO2 yang dihasilkan tidak kurang dari 21 juta ton setiap tahunnya – total proyeksi emisi CO2 Indonesia dari berbagai sektor untuk tahun 2005 sebesar 245,89 juta ton. Nasrullah Salim, peneliti energi Yayasan Pelangi Indonesia, menegaskan, “Pilihan untuk pembangunan pembangkit listrik dengan bahan bakar yang murah seharusnya ditinjau kembali. Pertimbangan lingkungan perlu mendapat porsi yang seimbang dengan ekonomi dalam rencana pembangunan.”
f. Cara lain mengurangi emisi GRK adalah dengan efisiensi energi. Ada peluang bagi industri untuk mengefisiensikan penggunaan listrik sebanyak 11% dengan mengurangi listrik pada motor dengan menggunakan teknologi yang lebih efisien.

2. Beradaptasi terhadap perubahan

Perubahan iklim sudah mulai terjadi dengan berbagai dampaknya dan kita harus bisa menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi sesegera mungkin. Perubahan pola musim hujan dan kering telah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Dalam 10 tahun terakhir musim hujan semakin singkat dengan intensitas lebih tinggi, dan musim kemarau yang semakin panjang. Perubahan-perubahan ini ikut berperan meningkatnya insiden banjir dan kekeringan di Indonesia. Hal ini sudah dirasakan beberapa desa di Cisarua, Jawa Barat, hulu Sungai Ciliwung yang mengganggu pertanian lokal. Untuk beradaptasi, telah dibuat pengelolaan resapan air dengan bendungan-bendungan kecil di daerah hulu untuk menyimpan air sehingga mengurangi risiko banjir di daerah hilir sekaligus meningkatkan persediaan air di musim kemarau.
Naiknya permukaan air laut merupakan salah satu dampak perubahan iklim yang juga sudah dirasakan di Indonesia. Penduduk di beberapa desa di Kepulauan Raja Ampat, Papua, sudah merasakan berubahnya garis pantai yang semakin masuk ke darat setidaknya 10 meter dalam 10 tahun terakhir, serta semkin luasnya intrusi air laut ke air tanah. Ini memaksa mereka untuk mencari lokasi tempat tinggal baru.
Terus meningkatnya emisi GRK hasil aktivitas manusia cenderung akan meningkatkan bencana yang terkait dengan iklim. Untuk mengantisipasi dampak-dampak perubahan iklim, diperlukan kajian untuk mengidentifikasi daerah dan sektor mana yang rentan terhadap perubahan iklim kemudian menentukan strategi adaptasi yang paling sesuai.
Kegiatan adaptasi perlu dimasukkan ke dalam rencana pembangunan, terutama di bidang yang rentan dampak perubahan iklim seperti pertanian, perikanan, kesehatan, kehutanan, dan sumberdaya air. Kegiatan-kegiiatan rehabilitasi lahan kritis dengan cara reforestasi, melarang illegal logging, penangkapan ikan dengan racun, serta hemat air, sebenarnya sudah termasuk adaptasi terhadap perubahan iklim. Kegiatan-kegiatan ini sekarang menjadi semakin penting dengan adanya ancaman perubahan iklim.
3. Utamakan Adaptasi

Hasil pemantauan BMG terhadap kenaikan suhu di berbagai kota di Indonesia diterbitkan secara resmi. Memanfaatkan momentum pertemuan akbar COP ke-13 UNFCCC (Konvensi PBB tentang Perubahan Iklim) di Bali, melalui hasil pemantuan ini ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia sudah benar-benar terimbas perubahan iklim, bukan hanya hitung-hitungan perkiraan tapi nyata dan fakta. Dampak buruk dari perubahan iklim terus akan dialami oleh Indonesia, tapi dana adaptasi masih saja tidak ada. Konsep Protokol Kyoto, hanya mengutamakan pengurangan emisi karbon negara-negara maju tapi tidak memperhatikan secara khusus alokasi dana adaptasi buat negara berkembang, yang lebih parah terimbas perubahan iklim. Perhatian harus dialihkan dari mitigasi penurunan emisi karbon ke dana adaptasi buat negara-negara berkembang seperti Indonesia, karena dampak buruk perubahan iklim terjadi saat ini juga tidak menunggu hingga emisi berhasil diturunkan. Di sisi lain juga agar sektor transportasi sebagai sumber emisi karbon terbanyak di Jakarta turut bertanggungjawab atas kenaikan suhu kota. Tiap tahunnya para produsen motor dan mobil haya mengumumkan target penjualan mereka, tanpa bisa menunjukkan upaya penghijauan kota yang sepadan. Menjelaskan bahwa selain menambah ruang terbuka hijau, Pemprov DKI Jakarta juga bertugas membenahi sektor transportasi, jika ingin temperatur kota tidak terus melonjak naik. Pemprov harus memperhatikan aspek pengendalian moda transportasi pribadi, sembari memperbaiki transportasi umum yang harus dibuat nyaman, aman, dan tepat waktu.

III. Indonesia Pembuang Emisi Terbesar Kedua Setelah AS dan China
Indonesia sudah menjadi negara pembuang emisi terbesar ketiga setelah Amerika Serikat dan China dengan jumlah emisi yang dibuang mencapai 3.014 MtCO2e. Hal itu dikatakan Pakar Lingkungan Prof Dr Emil Salim dalam orasi pengangkatannya sebagai Perekayasa Utama Kehormatan bidang Teknologi Lingkungan dan Kebumian Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Hanya saja jika AS dan China menjadi pembuang emisi terbesar masing-masing total sebesar 6.005 dan 5.017 MtCO2e akibat pemanfaatan energi fosil secara besar-besaran, sumber emisi Indonesia adalah kebakaran hutan. Akibat kebakaran hutan ini Indonesia melepas emisi sampai 2.563 MtCO2e, sementara dari energinya Indonesia hanya membuang emisi 275 MtCO2e, dari pertanian sebesar 141 dan dari limbahnya 35 MtCO2e, sehingga total emisi 3.014 MtCO2. Di peringkat keempat negara pembuang emisi terbesar adalah Brazil sebesar 2.316 MtCO2e yang kondisinya mirip di Indonesia di mana sebagian besar sumber emisinya adalah permasalahan hutan. Di peringkat lima dan enam terbesar pembuang emisi adalah Rusia disusul India yang masing-masing menyumbang emisi 1.745 dan 1.577 MtCO2e yang sumbangan terbesarnya berasal dari pemanfaatan energi fosil. Dalam Konvensi Perubahan Iklim 1992 yang ditandatangani 154 Kepala Negara disepakati stabilisasi konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK) di atmosfer pada tingkat yang bisa mencegah intervensi anthropogenic pada sistem iklim bumi. Pada Kyoto Protokol yang operasional pada 1997 ditargetkan pengurangan emisi global ke tingkat 5,2 persen di bawah emisi Gas Rumah Kaca (GRK) 1990 untuk dicapai negara-negara maju pada 2012. Karena itu dibangun mekanisme perdagangan emisi, implementasi bersama dan mekanisme pembangunan bersih (CDM). Di sini negara maju mengurangi emisi GRK dengan membangun proyek penyerap karbon di negara berkembang. Negara berkembang yang membangun belakangan ini tidak wajib mengurangi emisi atau menyerap karbon, malahan mereka bisa menawarkan proyek-proyek penyerap karbon dengan imbalan dari negara maju, meski kesepakatan ini ditentang oleh AS dan Australia. Indonesia pada 2008-2012, bisa menawarkan 24 juta ton CO2 per tahun dari sektor energi dan 23 juta ton CO2 per tahun dari sektor kehutanan, di mana harga karbon sekitar 1,5-5,5 dollar AS per ton CO2e per tahun.

*) Penulis adalah Staf peneliti pada Puslitbang Hasil Hutan
Jl. Gunung Batu PO.Box 184, Bogor, Tel/fax.(0251) 8633378/8633314
E-mail:; lina@forda-mof.org; gsmlina@gmail.com;

**) disadur dari Soejachmoen, KH Direktur Eksekutif Yayasan Pelangi Indonesia; Jakarta (ANTARA News); Orasi prof Dr. Emil Salim; Millis Lingkungan.

RUNTUHNYA KERAJAAN MINANGKABAU

RUNTUHNYA KERAJAAN MINANGKABAU

Ditulis oleh : H.M. Rasyid Dt. Paduko

Pada tahun 1803 terjadilah suatu keadaan yang akan menambah warna dari sejarah Minangkabau, dan akhirnya menghapus gemilangnya nama Minangkabau dari halaman sejarah Tanah Air. Oleh karenanya mulai dari abad XIX kerajaan Minangkabau tidak lagi disebut sebagai suatu kerajaan, karena kekuasaannya sudah sirna.
Jauh sebelum itu yaitu sejak tahun 1530 Minangkabau sudah memeluk agama Islam. Pada tahun itu antara adat dan agama berjalan dengan baik, saling menguatkan satu dengan lainnya, ibarat tali berpilin dua. Justru karena perpilinan itu banyak amal-amal keagamaan yang tidak berjalan menurut semestinya. Hal-hal yang menurut agama dianggap bid’ah berkembang dengan subur dalam masyarakat. Contohnya tentang pembagian harta peninggalan yang tidak menurut hukum faraidh, akan tetapi menurut garis keturunan ibu (matrilinial).
Para ulama muda merasa tidak puas dengan paham ulama tua yang masih kuat memegang paham Syi’ah. Para ulama muda jumlahnya semakin hari semakin besar, semakin kuat dan anti terhadap yang sudah usang yakni paham Syi’ah. Pada tahun 1803 itu pulang dari Tanah Suci Mekkah tiga orang ulama, yaitu :
1. Haji Miskin yang berasal dari Luhak Agam, dan suraunya berada di kampungnya Pandai Sikek. Disanalah Haji Miskin mengembangkan faham yang baru diterimanya di Makkah. Dengan khotbahnya yang berapi-api beliau mengobarkan semangat jihad untuk memberantas segala hal yang bertentangan dengan agama. Disertai dengan keahliannya dalam berpidato, maka semakin hari semakin bertambah banyak pengikutnya.
2. Haji Piobang. Beliau berasal dari Luhak Limo Puluh Koto. Beliau seorang ulama yang revolusioner, seorang yang mengerti strategi dan taktik kemiliteran. Beliau ingin cita-citanya sempat terujud. Selama beliau bermukim di Arab Saudi, beliau sempat pergi ke Mesir dan menuntut ilmu di Universitas Al-Azhar. Ketika sudah pulang beliau menetap di kampungnya.
3. Haji Sumanik. Beliau berasal dari Luhak Tanah Datar, seorang ulama muda yang jiwanya penuh dengan semangat pembaharuan dalam bidang agama, tegas dalam bertindak, tidak tedeng aling-aling.

Ketiga ulama muda itu serentak mengobarkan semangat baru dalam bidang agama, memberantas syirik dan khurafat, yang pada masa itu masih berkembang ditengah masyarakat. Ketiga ulama itu mengembangkan faham yang diterimanya di Mekkah dari Syekh Abdul Wahab, yang fahamnya itu dinamakan Wahabi. Ketiganya melihat amat banyak kepincangan-kepincangan yang berlaku dalam masyarakat. Orang-orang masih suka mengadu dan menyabung ayam, mengisap candu yang oleh pemerintah Belanda dibiarkan begitu saja. Berjudi dalam berbagai bentuk menjadi-jadi.
Maka ketiga ulama itu memperkuat larangannya terhadap hal-hal yang oleh agama Islam tidak diperbolehkan. Ajaran-ajaran ketiga ulama itu disambut baik oleh ulama-ulama muda yang ada di kampung, dan ulama-ulama yang berfaham baru lainnya. Sehingga dalam waktu singkat mereka sudah menjadi suatu kumpulan yang banyak jumlahnyadan kuat.
Mula-mula merkean mengadakan pengajian berpusat di suaru Haji Miskin di pandai Sikek. Oleh karena kaum adat melihat gejala-gejala akan semakin kuatnya perkumpulan ulama-ulama baru ini, maka ketiga ulama itu beserta pengikutnya diusir oleh penghulu-penghulu dari Padang Panjang, sehingga mereka memindahkan pusat pengajian ke Kamang.
Di kamang bertemulah mereka itu dengan teman-teman kuat lainnya seperti : Tuanku Nan Renceh, Tuanku Tuo di Cangkiang, Malin Putiah dari Aie Tabik, Tuanku Pamasiangan dan Peto Syarif dari Bonjol dan lain-lainnya. Maka dengan demikian, tersusunlah suatu kelompok yang kuat untuk mengadakan pembaharuan dalam bidang agama, menghapus khurafat, syirik dan bid’ah. Mereka sumuanya berjumlah delapan orang, yang kemudian berjuluk “HARIMAU NAN SALAPAN” yaitu : 1. Tuanku Pamansiangan sebagai ketua, 2. Haji Miskin, 3. Haji Piobang, 4. Haji Sumanik, 5. Tuanku nan Renceh, 6. Tuanku Tuo di Cangkiang, 7. Malin Putiah dari Aie tabik, 8. Peto Syarif di Bonjol.
Mereka semuanya beserta pengikut-pengikutnya berpakaian putih, sehingga mereka dinamakan kaum putih atau kaum Paderi. Sedangkan kaum adat, para penghulu berpakaian hitam-hitam dan dinamakan kaum hitam.
Antara kaum putih dan kaum hitam terdapat perbedaan yang amat tajam dalam pelaksanaan agama. Kaum hitam membolehkan mangadu atau menyabung ayam, menghisap madat atau candu, makan sirih dan berjudi. Sedangkan kaum putih mengharamkan perbuatan-perbuatan itu dan wajib diberantas. Kaum hitam ini tidak kuat dan terlalu lemah untuk menghadapi kaum putih atau kaum paderi. Maka mereka meminta bantuan Belanda untuk menghancurkan kaum Paderi itu. Dengan demikian kaum Paderi menghadapi dua lawan, pertama kaum hitam dan kedua Belanda.
Walaupun demikian mereka sudah bertekad untuk mengganti undang-undang adat yang tidak sesuai dengan agama, dengan aturan-aturan agama Islam dengan menerapkan sanksi-sanksi yang keras tanpa pandang bulu.
Dari laporan yang dapat dibaca, bahwa seorang pimpinan kaum Paderi tidak ragu-ragu menjatuhkan hukuman walaupun kepada orang tua atau saudara sendiri apabila tidak menjalankan perintah-perintah agama.
Di antara sekian banyak pimpinan kaum Paderi termasuk Harimau Nan Salapan, tertonjollah seorang pemuda yang mempunyai keberanian luar biasa, gagah dan perkasa, sifat-sifat kepemimpinannya lebih menonjol dibanding yang lain. Ia adalah Peto Syarif yang kemudian berjudul Tuanku Imam Bonjol.
Peto Syarif mempelajari hukum-hukum agama dan ilmu kemiliteran, dan menerapkannya sekaligus dalam kalangan kaum Paderi dan masyarakat. Masa-masa selanjutnya Bonjo; menjadi pusat pergerakan dan benteng yang kuat Kaum Paderi.
Bentrokan-bentrokan antara kaum putih dan kaum hitam terjadi dimana-mana. Kaum hitam melihat Bonjol adalah benteng dan pusat pergerakan kaun putih, maka kaum hitam ingin menghancurkan benteng kaum putih itu karena mereka melihat bahwa kaum putih itu merupakan bahaya besar bagi mereka dan dapat menghancurkan mereka.
Maka pada tahun 1818 kaum hitam mencoba menyerbu Bonjol. Hampir saja Bonjol jatuh ke tanga kaum hitam, namun Tuanku nan Renceh selaku pengatur dan pemegang siasat perang kaum Paderi cepat diberi tahu tentang penyerbuan kaum hitam ke Bonjol itu dan Tuanku nan Renceh beserta pasukannya yang banyak tepat datang pada waktunya, yaitu sewaktu kaum hitam sedang mengepung Bonjol.
Tuanku nan Renceh dengan pasukannya menyerang kaum hitam dengan dahsyat. Segala siasat, taktik ilmu perang yang sudah dipelajarinya diterapkannya dalam penyerangan itu, sehingga kaum hitam menjadi kucar kacir lari menyelamatkan diri.
Dibagian lain kaum Paderi melihat selain dari kaum hitam ada bahaya lain yang sedang mengancam, yaitu Belanda yang hendak menguasai Minangkabau.
Maka pada tahun 1821 Paderi menyerang Belanda yang berkedudukan di Air Bangis, yang dibantu oleh Armada Aceh. Secara serentak mereka melakukan serangan terhadap kedudukan Belanda. Tuanku Imam Bonjol dati darat sedangkan arma Aceh dibawah pimpinan Laksamana Saidi Marah dan Labai Adam dari laut. Belanda kucar kacir, sehingga beberapa meriam dan persenjataan lainnya dapat dirampas oleh kaum Paderi.
Kini kaum Paderi merasa lebih kuat karena dapat merampas beberapa pucuk persenjataan Belanda.
Pada tahun 1822 Paderi menyerang kedudukan Belanda di daerah Agam, Ampek Angkek, Kurai, Banuhampu dan lain-lain sekitar Bukit Tinggi. Belanda kewalahan dan minta berjanji atau berunding. Lalu dibuatlah perjanjian dihadapan Tuanku Tuo, guru kaum Paderi dan perantara bagi Belanda untuk minta berunding. Walaupun Tuanku Imam Bonjol pada hakekatnya tidak percaya kepada janji Belanda, namun beliau kembali juga ke Bonjol karena patuh kepada guru.
Pada tahun 1824 dibuat kembali perjanjian antara Paderi dengan Belanda dengan Masang, yang isi perjanjian itu bahwa Belanda tidak akan mencampuri urusan adat, agama dan pemerintahan di Minangkabau.
Akan tetapi Belanda segera membatalkan secara sepihak perjanjian itu dengan menyerang Koto Laweh tempat kedudukan sahabat akrab Tuanku Imam Bonjol, yaitu Tuanku Pamansiangan secara tiba-tiba. Pertempuran sengit selama empat hari berlangsung di Guguak Sigandang terletak di perbatasan tiga nagari, yaitu Pandai Sikek, Koto Laweh, dan Kayu Tanduak. Belanda melakukan serangan bergelombang, sementara Tuanku Pamansiangan kurang persiapan karena serangan itu mendadak. Tuanku Pamansiangan memperkirakan Belanda tidak akan melakukan serangan karena perjanjian baru saja ditanda tangani beberapa hari yang lalu. Banyak lasykar Paderi yang gugur dalam pertempuran empat hari tersebut. Koto Laweh dapat diduduki Belnda, sementara Tuanku Pamansiangan beserta pasukan yang masih tinggal mengundurkan diri ke Bonjol.
Pertempuran melawan Belanda menjadi berlarut-larut tak pernah berhenti, di samping kaum Paderi juga menghadapi kaum hitam. Akan tetapi setelah kaum hitam merasakan sendiri bagaimana kekejaman tentara Belanda itu terhadap rakyat, mnaka kaum hitam menyetujui untuk mengadakan serangan serentak terhadap kedudukan Belnda.
Pada tanggal 12 Januari 18... tengah malam dilakukanlah serangan serentak itu. Raja Pagaruyung sendiri ikut memimpin serangan terhadap Belanda itu sehingga Belanda menjadi kucar kacir diseluruh Minangkabau. Namun disayangkan juga bahwa rencana serangan serentak itu pada beberapa tempat sudah diketahui oleh Belanda sehingga merekapun lebih waspada dan dapat memberi bantuan kepada teman mereka yang terdesak. Seandainya serangan itu tidak bocor sebelumnya, maka sejarah Minagkabau akan menjadi lain.
Setelah serangan serentak itu sudah diperoleh kesepakatan bahwa untuk melakukan serangan selanjutnya, kaum putih dan kaum hitam akan bekerjasama. Namun amat disayangkan pula, kesepakatan itu dikejutkan pula oleh peristiwa yang terjadi di Saruaso, yakni pembantaian beberapa orang kaum hitam oleh kaum putih. Peristiwa itu terjadi karena kaum putih memperoleh informasi bahwa yang membocorkan rencana penyerangan serentak pada tanggal 12 Januari 18... itu kepada Belanda adalah kaum hitam, sehingga penyerangan serentak itu di sebagian tempat tidak berhasil.
Akhirnya perselisihan dan perpecahan antara kaum hitam dan kaum putih menjadi marak kembali, ditambah lagi oleh hasutan dan fitnahan dari pihak Belanda, atau politik adu domba pihak belanda dalam menghadapi Indonesia, maka Paderi dapat dikalahkan oleh Belanda.
Belanda sendiri merasa salut dan kagum dengan kegigihan dan keuletan kaum Paderi dalam berperang. Pada tahun 1837 Belanda meminta diadakan perundingan kembali. Semula Tuanku Imam Bonjol tidak mau berunding karena sudah pernah kecolongan. Akan tetapi dengan berbagai rayuan dan tipu muslihat Belanda serta janji-janji yang kederangarannya muluk-muluk, Tuanku Imam Bonjol pun memenuhi permintaan Belanda untuk berunding. Diiringi oleh beberapa orang teman dan dengan berkenderaan kuda tunggangan beliau menuju Lubuak Sikapiang untuk berunding.
Akan tetapi apa yang terjadi ? Bukan berunding, tetapi Tuanku Iman Bonjol dan teman-temannya disergap dan ditahan. Selanjutnya diasingkan ke Ambon dan kemudian dipindahkan ke Menado. Masih syukur, teman-teman beliau tidak ikut diasingkan, hanya beberapa hari ditahan kemudian dibebaskan. Sultan Muning III yang bergelar Sultan Bagagar Alamsyah yang menjadi Raja Minangkabau waktu itu juga diasingkan oleh Belanda. Perlawanan Raja Pagaruyuang diteruskan oleh Yang Dipertuan Sembayang III secara bergerilya, namun tidak membawa hasil sehingga beliau mengasingkan diri ke Muara Lembu dan meninggal disana pada tahun 1870.
Dengan demikian sirnalah kecemerlangan Minangkabau. Patah tumbuh hilang berganti. Raja wafat digantikan oleh saudara atau puteranya. Namun kekuasaan sudah tidak ada lagi karena kekuasaan sudah berada di tangan Belanda.
Kesimpulan yang dapat diambil, bahwa Kerajaan Minangkabau pernah ada dan berjaya sampai dengan ditangkapnya Sultan Bagagar Alamsyah oleh Belanda pada tahun 1837.


catatan : Tulisan ini tersimpan dalam fileku, sekarang beliau sudah menghadap Ilahi Sang Pencipta, namun aku berfikir mungkin ada manfaatnya jika tulisan ini aku upload, mungkin ada yang berminat membacanya. Semoga ada manfaatnya dan akan menjadi amal bagi beliau..Amin, InsyaAllah.











SILSILAH RAJO RAJO MINANGKABAU


1. ADITYAWARMAN 1339 1376
2. ANANGGAWARMAN 1376
3. SULTAN BAKILAP ALAM (BAGALA YANG DIPERTUAN RAJA PAGARUYUANG)
4. SULTAN PASAMBAHAN
5. SULTAN ALIF
6. SULTAN BANANDANGAN
7. SULTAN MUNING I (SULTAN BAWANG)
8. SULTAN MUNING II (SULTAN FATAH)
9. SULTAN MUNING III (SULTAN BAGAGAR ALAMSYAH)
10. SULTAN SEMBAYANG III
11. TUAN GADIH RENO SUMPU
12. SULTAN IBRAHIM
13. SULTAN USMAN


CATATAN :

- Menurut kaba, Kerajaan Minagkabau sudah ada sebelum Nabi Isa lahir
- Sebelum Adityawarman suda ada Raja Raja di Minangkabau, namun bukti keabsahannya belum ditemukan
- Bukti-bukti keberadaan Kerajaan Minangkabau ditemukan semenjak Adityawarman.

PATRIOTISME PEMUDA PADANG PANJANG

LATAR BELAKANG SEJARAH PERJUANGAN KEMERDEKAAN
BANGSA INDONESIA


Kita semuanya bangsa Indonesia yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkeyakinan pula bahwa Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan Yang Maha Kuasa dan Tuhan Seru sekalian alam, sesuai dengan kodratNya dan iradatNya telah menciptakan alam raya ini dengan segala isinya. Selanjutnya makhluk ciptaan itu diatur, dibina dan dipelihara menurut kehendak Allah sang pencipta sendiri.
Diantara sekian banyak makhluk ciptaan Allah, manusialah makhluk yang paling mulia. Maka kepada manusialah hukum-hukum Allah, ketentuan-ketentuan-Nya dibebankan. Yaitu agar berbakti, berbuat baik dan bersujud kepadaNya. Makhluk Tuhan yang bernama manusia itu pada hakekatnya adalah sama. Sama asal penciptaannya, sama harkat dan martabatnya namun berbeda warna kulit dan kebudayaannya.
Hak-hak manusia yang diberikan oleh Allah juga sama. Yaitu hak untuk hidup, hak untuk mencari nafkah, hak untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia kini dan diakhirat kelak dan hak untuk merdeka. Kewajiban yang diberikan Allah kepada manusia juga sama, yaitu agar berbakti kepadaNya, menyayangi sesama manusia dan memanfaatkan alam raya ini untuk kemaslahatan bersama.
Atas dasar dan keyakinan itulah maka kita bangsa Indonesia menyatakan bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu adalah hak azazi manusia. Oleh karena manusia itu hidup secara berkelompok, sampai ke kelompok yang besar yang bernama bangsa, maka kemerdekaan juga adalah hak azazi setiap bangsa. Tuhan yang Maha Esa dan maha Kuasa telah menentukan bahwa manusia semenjak dahulu kala, bahkan semenjak manusia pertama diciptakanNya mendiami dan hidup di bumi Tuhan ini. Tidak ada manusia yang hidup di luar bumi. Nenek moyang kita yang merupakan cikal bakal bangsa Indonesia, yang semenjak dulu mendiami gugusan pulau-pulau yang sekarang ini bernama Indonesia, sudah memiliki kebudayaan yang tinggi nilainya menurut ukuran waktu itu, jauh sebelum berkenakan dengan bangsa-bangsa lain. Waktu itu nenek moyang kita sudah percaya pada roh, percaya pada dewa, kepada yang gaib yang diseut Sang Hyang Tunggal, bercocok tanam dan bergotong royong. Sifat ramah tamah semenjak dahulu sudah menjadi tabiat dari nenek moyang kita. Musyawarah/ mufakat semenjak dahulu pun sudah diterapkan oleh nenek moyang kita bangssa Indonesia. Menjadi kegemaran bagi nenek moyang kita dahulu kala mengarungi samudera luas, merantau ke negeri-negeri tetangga dengan menggunakan perahu bercadik yang dapat lincah melintasi alunan gelomang. Maka berkenalanlah nenek moyang kita itu dengan bangsa-bangsa lain sekaligus dedengan kebudayaannya, seperti Tiongkok, India, Persia, Arab dan Afrika. Karena perkenalan nenek moyang kita dengan bangsa-bangsa lain itu, lama kelamaan masuklah pengaruh agama dan kebudayaan dari luar ke tanah air kita ini melalui proses pergaulan dan perkawinan.
Nenek moyang bangsa Inddonesia semenjak dahulu sudah hidup dalam susunan ermasyarakat serta tata negara yang teratur dalam bentuk negara–negara kecil, seperti kerajaan Kutei, Taruma Negara, Kalingga, Mataram, Melayu, Pajajaran, dan juga sudah ada negara-negara antar nusa seperti Kerajaan sriwijaya, dan kerajaan Majapahit. Puncak kegemilangan negara antar nusa terjadi di dalam masa keperabuan Majapahit di bawah raja Hayam Wuruk dan patih Gajah Mada pada tahun 1357, di mana seluruh tumpah darah Nusantara raya (Semenanjung Melayu, Sumatera, Jawa, sunda Kecil, Kalimantan, sulawesi, Maluku dan irian), semuanya dalam satu kekuasaan pemerintah pusat di bawah panji-panji Majapahit. Kemudian tiada pasang surut. Semenjak patih gajah Mada meninggal dunia pada tahun 1364 tiada orang setara untuk menggantikannya. Penyakit dari dalam timbul, rasa tidak senang dengan pemerintah pusat mulai tumbuh, daerah mulai ingkar, perang saudara mulai terjadi, kekuatan ekonomi di sepanjang bandar-bandar terlantar, membuat kerajaan menjadi lemah. Para prajurit karena kekurangan gaji menjadi enggan bertugas, dan akhirnya sirnalah kegemilangan Majapahit itu pada tahun 1478.
Di saat Majapahit menuju keruntuhannya datanglah menggema seruan ajaran Islam ke tanah air dengan damai, tiada paksaan. Ajaran Islam yang disiarkan oleh Wali Sanga mengenai Tauhidullah (Keesaan Allah) berkenan dengan mudah diterima oleh hati sanubari rakyat Indonesia yang sebelumnya juga sudah memiliki kepercayaan kepada sang Hyang Tunggal, Tuhan seru sekalian alam. Tersebarlah Islam menyinari seluruh Nusantara, dan banyaklah raja-raja yang memeluk agama Islam tanpa paksa.
Maka tibalah saatnya panggung sejarah dunia melakonkan perebutan kekuasaan tunggal di seluruh nusantara yang indah ini, karena letaknya yang dipersimpangan lalu lintas antara benua dan antar samudera. Tumpuan arus pengaruh antara barat dan timur.

IMPERIALIS PERTAMA MELANDA NUSANTARA.

Berbicara mengenai penjajahan atau kolonialisme imperialisme di Nusantara ini, sebenarnya tiada dapat dilepaskan dari masalah polarisasi atau konfrontasi antara dua pola kekuatan, Barat dan Timur. Atau antara Eropa di satu pihak, dan Asia-Afrika di pihak lain. Pertemuan antara barat dan timur itu dinamakan oleh Prof. AJ. Toynbee sebagai pertemuan dua peradaban. Miss Barbara Ward menamakan sebagai pertemuan tali temali antara barat dan timur. Sedangkan Prof. Jan Romein dan Wertheim menyebut sebagai bentrokan antara barat dan timur.
Sejarah telah menunjukkan bahwa kontak, pertemuan atau bentrokan antara timur dan barat atau antara Asia-Afrika dan Eropa sudah sering kali terjadi, bagaikan rantai sebab akibat yang silih berganti. Mula-mula menanglah timur yang memasuki barat sebagaimana terlukis dalam fakta-fakta sejarah:
(1) Dalam abad ke IV bangsa Huna dari Asia di bawah pimpinan Atila memasuki Eropa, yang menyebabkan porak porandanya bangsa-bangsa Eropa dalam perpindahan bangsa-bangsa.
(2) Dalam abad ke VII Islam diturunkan Allah melalui Rasulnya Muhammad S.A.W. di tanah Arab, yang kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia. Ajaran Islam oleh penganutnya dibawa melintasi sepanjang pantai utara Afrika terus melintasi selat Jabal El Tarik mendarat di tanah semenanjung Iberia hingga sampai di Eropa, dan berada di sana kira-kira 700 tahun lamanya.
(3) Dalam abad ke XIII sampai abad ke XV bangsa Tartar dari Asia memasuki Eropa Timur, terutama daerah Rusia sekarang.
(4) Pada tahun 1453 umat Islam di awah pimpinan Sultan Salim (dinasti Turki Usmani) merebut Constantinopal, yang diganti namanya menjadi Istambul hingga sekarang, dan terus memasuki benua Eropa sampai perbatasan kota Wina.
Tibalah pula saatnya arus balik perjalanan sejarah dunia atau “the turning point of history’ kata ahli sejarah bangsa Belgia Henri Pirenne. Tibalah gilirannya bangsa-baangsa Eropa atau barat memasuki duniaTimur, yakni benua Asia-Afrika mulai akhir abad ke XVI dan bercokol di Timur hingga pertengahan abad ke XX.
Akibat jatuhnya Constantinopel ke tangan Turki pada tahun 1453, maka lautan tengah sebagai lalu lintas perdagangan antara barat dan timur tertutup. Bangsa-bangsa Eropa tidak dapat lagi secara langsung berlayar dan berhubungan ke dunia Timur mencari hasil bumi seperti rempah-rempah dan sebagainya. Karena sikap mereka yang dendam dan memusuhi Islam, sebagaimana dahulu bangsa eropa memusuhi Nasrani yang disiarkan oleh Nabi Isa Al-Masih, maka orang-orang Eropa terpaksa mencari jalan lain untuk dapat sampai ke dunia timur, khususnya daerah sumber rempah-rempah di nusantara kita ini.
Gerakan penyiaran islam di bawah pimpinan Abdur Rahman bin Abdullah AlGfiqi melalui pegunungan Pyrene menuju ke utara setelah mengalahkan Pangeran Eudo di lembah sungai Garonne, menyerbu Bourdeaux samapi di sekitar Tours di dekat kota Poiters pada tahun 732.
Diantara Tours dan Poiters di mana bertemu sungai Clain dan Vienna berhadapanlah pasukan Abdur Rahman dengan pasukan Karel Martel. Maka terjadilah pertempuran sengit antara ke dua pasukan pada hari sabtu bulan oktober tahun 732. Dalam pertempuran itu gugurlah Abdur Rahman sebagai Syuhada. Pasukannya mundur secara teratur. Karel Martel menanglah dalam pertempuran itu.

PATRIOTISME PEMUDA PADANG PANJANG

Sebuah Catatan H.M. Rasyid DT. Paduko (Alm. Mayor Purn.)

SEBUAH CATATAN
H.M Rasyid Dt Paduko

Pada tanggal 13 Februari 1949 tentara Belanda dengan kekuatan dua kompi memasuki Pandai Sikek. Mereka datang dari Bukit Tinggi melalui dua jalan. Pertama dari Koto Tinggi dengan berjalan kaki menuju Jorong Tanjuang. Kedua dari Baruah me-nuju Pagu-pagu.
Barangkali mereka sudah memperoleh informasi bahwa di Jorong Tanjuang ada satu kompi TNI. Memang Benar ! Di Jorong Tanjuang bertempat tinggal datu kompi TNI dari Batalyon II Resimen VI yang dipimpin Kemal Mustafa yang berpangkay Mayor. Kompi tersebut di atas bernama Kompi Yacher, yang dipimpin oleh Letnan Dua Yusuf Siraj. Orang-orang menyebutnya dengan Yusuf Yacher. Yang amat disayangkan, bahwa kompi ini tidak pernah menghadapi Belanda. Apabila patroli Belanda datang ke Pandai Sikek, Kompi ini bersembunyi ke Gunung Singgalang atau ke tempat lain yang tidak mungkin didatangi atau dilewati patroli Belanda.
Keberadaan Kompi ini di Pandai Sikek amat jauh dari harapan rakyat sebelumnya. Semula rakyat mengharapkan, Kompi ini akan dapat melindungi rakyat dari kekejaman serdadu-serdadu Belanda. Akan tetapi yang terjadi malah sebaliknya, yaitu para pemuda BPNK disuruh berjaga-jaga untuk memberitahu kedatangan patroli tentara Belanda agar mereka dapat menyelamatkan diri.
Pada hari ini, oleh karena tentara Belanda tidak menemukan yang mereka cari yaitu Kompi Yacher, mereka membakari rumah-rumah rakyat di Jorong Tanjuang dan Jorong Pagu-pagu. Di Jorong Tanjuang 90 buah rumah yang dibakar Belanda dan di Jorong Pagu-pagu 52 buah. Setelah selesai membakari rumah-rumah penduduk, tentara Belanda itu kembali ke induk pasukannya di Bukitg Tinggi.
Inilah sedikit catatan, duka-duka rakyat Pandai Sikek yang terjadi dalam tahun 1949. Rakyat hanya pasrah, apa daya rakyat yang tidak mempunyai kekuatan apa-apa, walaupun ada Kompi Yacher di sekitar meraka. Kompi Yacher ini tidak hendak bertempur melawan Belanda. Barangkali karena morilnya sudah turun atau kekurangan peluru, entahlah ! Yang jelas apabila patroli Belanda tiba di Pandai Sikek, mereka bersembunyi.
Orangpun tahu bahwa di Pandai Sikek banyak sekali kolam-kolam ikan milik rakyat. Hampir setiap rumah mempunyai kolam ikan, namun ada juga milik bersama (milik nagari). Kompi Yacher ini hampir setiap hari memancing di kolam-kolam yang ada. Mereka tidak peduli apakah kolam-kolam ikan itu berpunya atau tidak. Ikan-ikan hasil pancingan mereka bawa dan mereka makan. Bukankah makanan yang diambil tanpa seizing pemiliknya itu mencuri namanya ? Bukankah mencuri itu haram hukumnya ? Barangkali seandainya Kompi ini pernah bertempur dengan Belanda atau mengadakan perlawanan apabila patroli Belanda datang, rakyat anggota masyarakat tidak akan kecewa. Walaupun kolam-kolam ikan mereka dipancingi setiap hari, mereka akan rela. Rakyat Pandai Sikek sangat anti dengan Kompi ini yang manifestasinya rakyat tidak lagi memberi bantuan bagi mereka. Maka dalam bulan Juni 1949 mereka pindah dari Pandai Sikek

Hari Jadi Kota Padang Panjang

BADAN KAJIAN SEJARAH PERJUANGAN BANGSA PADANG PANJANG

Tulisan berkenaan dengan Hari Jadi Kota Padang Panjang
Ditulis oleh: H. M. Rasyid Dt. Paduko (Alm. Mayor Purn)

Penetapan hari jadi suatu kota mengandung arti yang amat penting bagi masyarakat dan bagi pemerintahnya sendiri. Karena dengan menetapkan hari jadi itu dapatlah diketahui histories kehidupan suatu kota dan untuk mengetahui nilai-nilai yang terkandung dalam sejarah perjalanan kota itu, danuntuk memperoleh identitas kota itu sendiri.
Semenjak lama sudah dikandung maksud untuk menggali hari jadi kota Padangpanjang. Namun oleh karena beberapa hal tak kunjung kesampaian. Hari jadi Kota padangpanjang yang setiap tahun diperingati dewasa ini adalah berdasarkan Undang-undang No 8 tahun 1956. jadi berdasarkan Undang-undang tersebut di atas, maka kota Padangpanjang baru berusia 46 tahun. Timbul pertanyaan, apakah betul padangpanjang baru berusia 46 tahun?
Dapat kita utarakan disini bahwa padangpanjang abad ke 18 sudah menjadi tempat pemukiman penduduk. Jadi tidak benar bahwa Padangpanjang baru berusia 46 tahun. Akan tetapi jauh sebelum itu sudah terjadi berbagai kegiatan dan perjuangan. Itulah sebabnya badan Kajian Sejarah perjuangan bangsa Padangpanjang berupaya mencari data-data tentang hari jadi Kota Padangpanjang yang dapat dipertanggung jawabkan keabsahannya.
Dalam observasi kepustakaan yang dilakukan, dan dengan mempelajari tulisan-tulisan para penulis, diantaranya A.najir yunus dan drs. H. Taslimuddin Dt. Tungga, terdapat beberapa tanggal yang patut dipelajari, dan dijadikan rujukan dalam menetapkan hari jadi kota Padangpanjang.
Pertama. Hari Jumat tanggal18 Juli 1818.
Pada hari itudiadakan perdamaian antara LimoKoto danAmpek Koto yang sudah bermusuhan selama lebih kurang 15 tahun bertempat di pakan Jumatnan lamo. Pendamaiadalah TuankuPamansiangan. Beliau adalahketua dari Harimau nan salapan, yaitu pemuka kaum Paderi.
Dengan mengangkat AlQuran beliau berucap: Saudara-saudara sekalian, kita semua adalah Hamba Allah! Kita semua orang Islam! Orang Islam itu bersaudara! Orang bersaudara tidak patut saling bermusuhan. Kapan kita akan maju, kapan kita akan dapat membangun negeri kita ini jika kita saling bermusuhan terus menerus. Maka dari itu mari kita habisi segala permusuhan, mari kita habisis segala dendam. Permusuhan dan dendam hanya akan membawa petaka bagi kita semua. Barangkali karena sudah jenuh bermusuhan, maka yang hadir baik dari Limo Koto maupun dari Ampek Koto menerima dengan ikhlas anjuran Tuanku Pamansiangan. Perdamaian itu dipateri dengan shalat Jumat bertempat di Masjid Ashliyyah yang sekarang, dengan Khatib dan iamam adalah Tuanku Pamansiangan sendiri.
Selesai shalat jumat ditanda tangani suatu piagam/sumpah satie antara urang Limo Koto dan urang ampek Koto yang berisikan antara lain:
1. Antara Limo koto dan Ampek Koto tidak akan bermusuhan lagi untuk selamanya.
2. Pasa dipindahkan dari pakan Jumat nan usang ke Padangpanjang sari mananti (yaitu Pasar Usang sekarang)
3. Tabu Baraie milik urang Limo Koto diberikan kepada urang Ampek koto, sedangkan Bukik Kapanehan milik urang Ampek Koto diberikan kepada Urang Limo Koto.
4. Bagi siapa yang melanggar sumpah satie ini, akan dimakan sumpah; Ka ateh indak bapucuak ka bawah indak ba urek, ditangah-tangah dilariak kumbang.
Piagam Padangpanjang Sari manantiitu sampai sekarang tetap langgeng, dan tidak ada yang melanggar.
Ke dua. Pada tahun 1837 Ibu Kota Sumatera Barat dipindahkan ke Padangpanjang utnuk kepentingan strategi, mengepalai dua residensi, Padang dan bahagian Utara berpusat di Aia bangis (SK No. 829/1837). Perpindahan ibu kota ini pada dasarnya adalah untuk kepentingan pemerintahan Belanda pada waktu itu, yang tidak ada sangkut pautnya dengan pembangunan Padangpanjang. Ternyata tiga tahun kemudian yaitu tahun 1840 ibu kota Sumatera Barat dipindahkan lagi ke Padang.
Ke tiga. Pada tahun 1865 Kecamatan Batipuah dan X Koto dijadikan asisten residensi dengan pusatnya di Padangpanjang. Hal ini juga untuk kepentingan pemerintahan Belanda. Kepentingan penjajah untuk memperkuat penjajahannya. Yang daspat kita kutip disini adalah bahwa Padangpanjang mempunyai kedudukan yang penting dan kuat dipandang dari segi strategi, militer, dan mobilitas. Karena letaknya yang dipersimpangan, maka pemerintah Belanda menempatkan batalyon tentaranya di Padangpanjang
Ke empat. Pada tahun 1888 pusat pemerintahan sipil Belanda dipindahkan dari Lampanai ke Padangpanjang. Inipun untuk kepentingan pemerintah Belanda sendiri. Yang dapat diambil disini adalah pentingnya Padangpanjang karena letaknya yang dipersimpangan. Dari segi mobilitas pasukan amat penting.

Analisa sekitar tanggal 18 Juli 1818.
Pada tanggal tersebut di atas terdapat tiga angka delapan belas. Delapan belas (18) adalah angka 1 dan 8. Jika angka 1 dan 8 dipertambahkan, maka menjadi angka 9. Ini berarti ada 9 nagari yang selama 15 tahun bermusuhan pada hari itu berdamai.
1 + 8 = 9. Ada 9 kali perlawanan rakyat Minangkabau melawan penjajah.
1. Perlawanan Minagkabau tahun 1645 s/d 1667
2. Perlawanan Pariaman tahun 1818
3. Gerakan Harimau nan salapan tahun 1820
4. Perang Sulit Air tahun 1820
5. Perang Paderi tahun 1821 s/d 1837
6. Perang Kerinci tahun 1901
7. Perang Manggopoh tahun 1906
8. Perang Kamang tahun 1908
9. Perang Silungkang tahun 1926
1 + 8 = 9 yang ke dua berarti: Tis u’l munjiaat (sembilan perkara yang melepaskan diri dari kesengsaraan) yang perlu bagi para pemimpin Padangpanjang yaitu: 1 Iman; 2. Islam; 3. Ihsan; 4. Ikhlas; 5. Birril waldain; 6. Shilaturrahmi; 7. Amanah; 8. Jihad lillahi taala; 9. Adil (Imam Al Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumiddin).
1 + 8 = 9 yang ke tiga berarti: Tisu’ul muhlikaat (sembilan perkara yang membawa sengsara) yang perlu dijauhi oleh seluruh umat islam, yaitu: 1. Syirik; 2. lalai; 3. Nifaq; 4. Fitnah; 5. U’ququl walidain; 6. Sombong/takabur; 7. Hasad; 8. Kikir atau pelit; 9. Pemalas (Imam Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumiddin).
Berdasarkan hal-hal yang kami sebutkan di atas, maka kami mengusulkan kepada PEMDA Padang panjang agar tanggal 18 Juli 1818 dijadikan Hari Jadi Kota Padangpanjang dengan pertimbangan sebagai berikut:
1. bahwa pada hariJum’at tanggal 18 Juli 1818 itu adalah hari perdamaian yang sampai hari ini masih tetap langgeng;
2. Sumpah satie ditanda-tangani pada hari itu dengan mengangkat Al-Quran Al-Kaim berarti karena kesaktian Al-Quran, tidak yang berani melanggar;
3. Dengan mengangkat Al-Quran pada hari perdamaian itu berarti kita semua di Padangpanjang Batipuah dan X Koto wajib kembali kepada Al-Quran, beramal menurut Al-Quran, dan berperilaku menurut Al-Quran;
4. Mengingat ke tiga hal tersebut di atas, maka julukan SERAMBI MEKKAH bagi Kota Padangpanjang yang sudah ditetapkan oleh PEMDA pada tahun 1990, dirasakan sudah tepat sekali.

Tulisan ini ditulis beberapa minggu sebelum beliau meninggal..
sebagai anak saya dedikasikan untuk Alm Bapak, semoga Bapak mendapat tempat yang mulia disisi Allah, Amin. Amin. Amin Ya Rabbal 'Alamin