LATAR BELAKANG SEJARAH PERJUANGAN KEMERDEKAAN
BANGSA INDONESIA
Kita semuanya bangsa Indonesia yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkeyakinan pula bahwa Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan Yang Maha Kuasa dan Tuhan Seru sekalian alam, sesuai dengan kodratNya dan iradatNya telah menciptakan alam raya ini dengan segala isinya. Selanjutnya makhluk ciptaan itu diatur, dibina dan dipelihara menurut kehendak Allah sang pencipta sendiri.
Diantara sekian banyak makhluk ciptaan Allah, manusialah makhluk yang paling mulia. Maka kepada manusialah hukum-hukum Allah, ketentuan-ketentuan-Nya dibebankan. Yaitu agar berbakti, berbuat baik dan bersujud kepadaNya. Makhluk Tuhan yang bernama manusia itu pada hakekatnya adalah sama. Sama asal penciptaannya, sama harkat dan martabatnya namun berbeda warna kulit dan kebudayaannya.
Hak-hak manusia yang diberikan oleh Allah juga sama. Yaitu hak untuk hidup, hak untuk mencari nafkah, hak untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia kini dan diakhirat kelak dan hak untuk merdeka. Kewajiban yang diberikan Allah kepada manusia juga sama, yaitu agar berbakti kepadaNya, menyayangi sesama manusia dan memanfaatkan alam raya ini untuk kemaslahatan bersama.
Atas dasar dan keyakinan itulah maka kita bangsa Indonesia menyatakan bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu adalah hak azazi manusia. Oleh karena manusia itu hidup secara berkelompok, sampai ke kelompok yang besar yang bernama bangsa, maka kemerdekaan juga adalah hak azazi setiap bangsa. Tuhan yang Maha Esa dan maha Kuasa telah menentukan bahwa manusia semenjak dahulu kala, bahkan semenjak manusia pertama diciptakanNya mendiami dan hidup di bumi Tuhan ini. Tidak ada manusia yang hidup di luar bumi. Nenek moyang kita yang merupakan cikal bakal bangsa Indonesia, yang semenjak dulu mendiami gugusan pulau-pulau yang sekarang ini bernama Indonesia, sudah memiliki kebudayaan yang tinggi nilainya menurut ukuran waktu itu, jauh sebelum berkenakan dengan bangsa-bangsa lain. Waktu itu nenek moyang kita sudah percaya pada roh, percaya pada dewa, kepada yang gaib yang diseut Sang Hyang Tunggal, bercocok tanam dan bergotong royong. Sifat ramah tamah semenjak dahulu sudah menjadi tabiat dari nenek moyang kita. Musyawarah/ mufakat semenjak dahulu pun sudah diterapkan oleh nenek moyang kita bangssa Indonesia. Menjadi kegemaran bagi nenek moyang kita dahulu kala mengarungi samudera luas, merantau ke negeri-negeri tetangga dengan menggunakan perahu bercadik yang dapat lincah melintasi alunan gelomang. Maka berkenalanlah nenek moyang kita itu dengan bangsa-bangsa lain sekaligus dedengan kebudayaannya, seperti Tiongkok, India, Persia, Arab dan Afrika. Karena perkenalan nenek moyang kita dengan bangsa-bangsa lain itu, lama kelamaan masuklah pengaruh agama dan kebudayaan dari luar ke tanah air kita ini melalui proses pergaulan dan perkawinan.
Nenek moyang bangsa Inddonesia semenjak dahulu sudah hidup dalam susunan ermasyarakat serta tata negara yang teratur dalam bentuk negara–negara kecil, seperti kerajaan Kutei, Taruma Negara, Kalingga, Mataram, Melayu, Pajajaran, dan juga sudah ada negara-negara antar nusa seperti Kerajaan sriwijaya, dan kerajaan Majapahit. Puncak kegemilangan negara antar nusa terjadi di dalam masa keperabuan Majapahit di bawah raja Hayam Wuruk dan patih Gajah Mada pada tahun 1357, di mana seluruh tumpah darah Nusantara raya (Semenanjung Melayu, Sumatera, Jawa, sunda Kecil, Kalimantan, sulawesi, Maluku dan irian), semuanya dalam satu kekuasaan pemerintah pusat di bawah panji-panji Majapahit. Kemudian tiada pasang surut. Semenjak patih gajah Mada meninggal dunia pada tahun 1364 tiada orang setara untuk menggantikannya. Penyakit dari dalam timbul, rasa tidak senang dengan pemerintah pusat mulai tumbuh, daerah mulai ingkar, perang saudara mulai terjadi, kekuatan ekonomi di sepanjang bandar-bandar terlantar, membuat kerajaan menjadi lemah. Para prajurit karena kekurangan gaji menjadi enggan bertugas, dan akhirnya sirnalah kegemilangan Majapahit itu pada tahun 1478.
Di saat Majapahit menuju keruntuhannya datanglah menggema seruan ajaran Islam ke tanah air dengan damai, tiada paksaan. Ajaran Islam yang disiarkan oleh Wali Sanga mengenai Tauhidullah (Keesaan Allah) berkenan dengan mudah diterima oleh hati sanubari rakyat Indonesia yang sebelumnya juga sudah memiliki kepercayaan kepada sang Hyang Tunggal, Tuhan seru sekalian alam. Tersebarlah Islam menyinari seluruh Nusantara, dan banyaklah raja-raja yang memeluk agama Islam tanpa paksa.
Maka tibalah saatnya panggung sejarah dunia melakonkan perebutan kekuasaan tunggal di seluruh nusantara yang indah ini, karena letaknya yang dipersimpangan lalu lintas antara benua dan antar samudera. Tumpuan arus pengaruh antara barat dan timur.
IMPERIALIS PERTAMA MELANDA NUSANTARA.
Berbicara mengenai penjajahan atau kolonialisme imperialisme di Nusantara ini, sebenarnya tiada dapat dilepaskan dari masalah polarisasi atau konfrontasi antara dua pola kekuatan, Barat dan Timur. Atau antara Eropa di satu pihak, dan Asia-Afrika di pihak lain. Pertemuan antara barat dan timur itu dinamakan oleh Prof. AJ. Toynbee sebagai pertemuan dua peradaban. Miss Barbara Ward menamakan sebagai pertemuan tali temali antara barat dan timur. Sedangkan Prof. Jan Romein dan Wertheim menyebut sebagai bentrokan antara barat dan timur.
Sejarah telah menunjukkan bahwa kontak, pertemuan atau bentrokan antara timur dan barat atau antara Asia-Afrika dan Eropa sudah sering kali terjadi, bagaikan rantai sebab akibat yang silih berganti. Mula-mula menanglah timur yang memasuki barat sebagaimana terlukis dalam fakta-fakta sejarah:
(1) Dalam abad ke IV bangsa Huna dari Asia di bawah pimpinan Atila memasuki Eropa, yang menyebabkan porak porandanya bangsa-bangsa Eropa dalam perpindahan bangsa-bangsa.
(2) Dalam abad ke VII Islam diturunkan Allah melalui Rasulnya Muhammad S.A.W. di tanah Arab, yang kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia. Ajaran Islam oleh penganutnya dibawa melintasi sepanjang pantai utara Afrika terus melintasi selat Jabal El Tarik mendarat di tanah semenanjung Iberia hingga sampai di Eropa, dan berada di sana kira-kira 700 tahun lamanya.
(3) Dalam abad ke XIII sampai abad ke XV bangsa Tartar dari Asia memasuki Eropa Timur, terutama daerah Rusia sekarang.
(4) Pada tahun 1453 umat Islam di awah pimpinan Sultan Salim (dinasti Turki Usmani) merebut Constantinopal, yang diganti namanya menjadi Istambul hingga sekarang, dan terus memasuki benua Eropa sampai perbatasan kota Wina.
Tibalah pula saatnya arus balik perjalanan sejarah dunia atau “the turning point of history’ kata ahli sejarah bangsa Belgia Henri Pirenne. Tibalah gilirannya bangsa-baangsa Eropa atau barat memasuki duniaTimur, yakni benua Asia-Afrika mulai akhir abad ke XVI dan bercokol di Timur hingga pertengahan abad ke XX.
Akibat jatuhnya Constantinopel ke tangan Turki pada tahun 1453, maka lautan tengah sebagai lalu lintas perdagangan antara barat dan timur tertutup. Bangsa-bangsa Eropa tidak dapat lagi secara langsung berlayar dan berhubungan ke dunia Timur mencari hasil bumi seperti rempah-rempah dan sebagainya. Karena sikap mereka yang dendam dan memusuhi Islam, sebagaimana dahulu bangsa eropa memusuhi Nasrani yang disiarkan oleh Nabi Isa Al-Masih, maka orang-orang Eropa terpaksa mencari jalan lain untuk dapat sampai ke dunia timur, khususnya daerah sumber rempah-rempah di nusantara kita ini.
Gerakan penyiaran islam di bawah pimpinan Abdur Rahman bin Abdullah AlGfiqi melalui pegunungan Pyrene menuju ke utara setelah mengalahkan Pangeran Eudo di lembah sungai Garonne, menyerbu Bourdeaux samapi di sekitar Tours di dekat kota Poiters pada tahun 732.
Diantara Tours dan Poiters di mana bertemu sungai Clain dan Vienna berhadapanlah pasukan Abdur Rahman dengan pasukan Karel Martel. Maka terjadilah pertempuran sengit antara ke dua pasukan pada hari sabtu bulan oktober tahun 732. Dalam pertempuran itu gugurlah Abdur Rahman sebagai Syuhada. Pasukannya mundur secara teratur. Karel Martel menanglah dalam pertempuran itu.
PATRIOTISME PEMUDA PADANG PANJANG
Kamis, 19 November 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar