SEBUAH CATATAN
H.M Rasyid Dt Paduko
Pada tanggal 13 Februari 1949 tentara Belanda dengan kekuatan dua kompi memasuki Pandai Sikek. Mereka datang dari Bukit Tinggi melalui dua jalan. Pertama dari Koto Tinggi dengan berjalan kaki menuju Jorong Tanjuang. Kedua dari Baruah me-nuju Pagu-pagu.
Barangkali mereka sudah memperoleh informasi bahwa di Jorong Tanjuang ada satu kompi TNI. Memang Benar ! Di Jorong Tanjuang bertempat tinggal datu kompi TNI dari Batalyon II Resimen VI yang dipimpin Kemal Mustafa yang berpangkay Mayor. Kompi tersebut di atas bernama Kompi Yacher, yang dipimpin oleh Letnan Dua Yusuf Siraj. Orang-orang menyebutnya dengan Yusuf Yacher. Yang amat disayangkan, bahwa kompi ini tidak pernah menghadapi Belanda. Apabila patroli Belanda datang ke Pandai Sikek, Kompi ini bersembunyi ke Gunung Singgalang atau ke tempat lain yang tidak mungkin didatangi atau dilewati patroli Belanda.
Keberadaan Kompi ini di Pandai Sikek amat jauh dari harapan rakyat sebelumnya. Semula rakyat mengharapkan, Kompi ini akan dapat melindungi rakyat dari kekejaman serdadu-serdadu Belanda. Akan tetapi yang terjadi malah sebaliknya, yaitu para pemuda BPNK disuruh berjaga-jaga untuk memberitahu kedatangan patroli tentara Belanda agar mereka dapat menyelamatkan diri.
Pada hari ini, oleh karena tentara Belanda tidak menemukan yang mereka cari yaitu Kompi Yacher, mereka membakari rumah-rumah rakyat di Jorong Tanjuang dan Jorong Pagu-pagu. Di Jorong Tanjuang 90 buah rumah yang dibakar Belanda dan di Jorong Pagu-pagu 52 buah. Setelah selesai membakari rumah-rumah penduduk, tentara Belanda itu kembali ke induk pasukannya di Bukitg Tinggi.
Inilah sedikit catatan, duka-duka rakyat Pandai Sikek yang terjadi dalam tahun 1949. Rakyat hanya pasrah, apa daya rakyat yang tidak mempunyai kekuatan apa-apa, walaupun ada Kompi Yacher di sekitar meraka. Kompi Yacher ini tidak hendak bertempur melawan Belanda. Barangkali karena morilnya sudah turun atau kekurangan peluru, entahlah ! Yang jelas apabila patroli Belanda tiba di Pandai Sikek, mereka bersembunyi.
Orangpun tahu bahwa di Pandai Sikek banyak sekali kolam-kolam ikan milik rakyat. Hampir setiap rumah mempunyai kolam ikan, namun ada juga milik bersama (milik nagari). Kompi Yacher ini hampir setiap hari memancing di kolam-kolam yang ada. Mereka tidak peduli apakah kolam-kolam ikan itu berpunya atau tidak. Ikan-ikan hasil pancingan mereka bawa dan mereka makan. Bukankah makanan yang diambil tanpa seizing pemiliknya itu mencuri namanya ? Bukankah mencuri itu haram hukumnya ? Barangkali seandainya Kompi ini pernah bertempur dengan Belanda atau mengadakan perlawanan apabila patroli Belanda datang, rakyat anggota masyarakat tidak akan kecewa. Walaupun kolam-kolam ikan mereka dipancingi setiap hari, mereka akan rela. Rakyat Pandai Sikek sangat anti dengan Kompi ini yang manifestasinya rakyat tidak lagi memberi bantuan bagi mereka. Maka dalam bulan Juni 1949 mereka pindah dari Pandai Sikek
Kamis, 19 November 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar